Yogyakarta sebagai kota budaya memiliki banyak tradisi, peninggalan-peninggalan yang semuanya adalah kekayaan budaya. Masyarakatnya juga masih menjunjung adat dan tradisi yang diwariskan oleh leluhurnya. Tergerusnya jaman tak menyurutkan mereka untuk melestarikan tradisi, budaya. Salah satu wujud pelestarian budaya di Yogyakarta adalah pembuatan keris. Keris tak bisa dilepaskan dari sejarah dan tradisi yang telah melekat. Seperti yang dilakukan oleh masyarakat Banyusumurup Imogiri. Desa yang sejak tahun 1950-an berkembang menjadi sentra kerajinan keris ini memang penduduknya banyak yang menjadi perajin keris.

Dahulu keris sering dijadikan pusaka atau “pegangan” untuk suatu tujuan tertentu. Kini keris bisa dibuat untuk tujuan benda seni, atau aksesori saja. Keris yang dibuat di Banyusumurup memiliki beragam fungsi. Bisa memang untuk pusaka, pegangan, atau hanya sekedar aksesori ataupun seni saja. Ada beberapa nama besar dibalik pembuatan keris seperti Mpu Tomorejo, Iro Menggolo, Dipo Menggolo, Haryo Menggolo, Kiai Cokro Harjo, Sosro Menggolo hingga Djiwo Diharjo.
Berkunjung ke desa ini akan terasa suasana desa dengan kesibukan sehari-hari warga desa. Walaupun telah berkembang sebagai desa kerajinan, suasana tetap seperti desa pada umumnya. Tak banyak papan penunjuk seperti halnya desa-desa wisata lainnya, misalnya Kasongan. Sebagian besar pengrajin memproduksi aksesoris keris dalam skala rumah tangga.
Dulunya penduduk Banyusumurup mayoritas adalah petani. Kemudian Sosro Mengglo yang seorang abdi dalem ini mengajak warga untuk membantu membuat keris. Sosro Menggolo ini adalah salah satu cikal bakal kerajinan keris di Banyusumurup. Selanjutnya, kemampuan membuat keris dilanjutkan oleh Djiwo Diharjo, anak Sosro Menggolo. Hanya ditempat Empu keris Mbah Djiwo inilah pengrajin keris jenis pusaka. Meskipun masih ada juga puluhan pengrajin keris di desa ini. Namun keris pusaka buatan Dwijo Diharjo inilah yang sudah dikenal publik. Tak heran Mbah Djiwo bisa dikatakan icon pengrajin keris desa Banyusumurup. Karena kemampuanya membuat keris yang diturunkan langsung dari moyangnya. Mbah Djiwo merupakan keturunan ke-19 dari Empu Supondriyo yang hidup pada jaman Kerajaan Majapahit. Dwijo Diharjo kini sudah meninggal pada Januari 2015. Kemampuan membuat keris pusaka Mbah Djiwo kini diturunkan kepada anak-anaknya, salah satunya Sutamo yang akrab dipanggil Momo. Sutamo kini sukses menekuni dan mengembangkan bisnis kerajinan keris warisan sang maestro dengan showroom yang dinamakan “Jiwo Diharjo”. Sang Maestro ini berhasil melestarikan warisan Kerajaan Majapahit sehingga Desa Banyusumurup menjadi sentra kerajinan keris yang cukup terkenal di Indonesia hingga mancanegara.
Jika berkunjung ke Banyusumurup sempatkan untuk berkunjung ke rumah (alm) Mbah Djiwo. Di rumah ini terdapat banyak produk kerajinan keris yang dipajang di etalase, dan juga terdapat beberapa piagam penghargaan. Salah satunya dari mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Diberikan langsung saat Mbah Djiwo diundang ke Istana Merdeka di Jakarta. Selain itu, di Banyusumurup ini anda bisa melihat beragam koleksi keris, sekaligus juga menikmati proses pembuatan beragam aksesoris keris sampai proses menghias keris. Anda bisa mendapat gambaran lengkap tentang bagaimana keris dan aksesorisnya diproduksi.
Pembuatan keris ini memang rumit. Proses pembuatan keris tidak sembarangan dikarenakan sudah ada petunjuk atau aturan yang harus dimengerti oleh si pembuat keris itu. Seperti proses menempa keris, aturannya yang menempa keris harus berusia lebih dari 30 tahun. Saat proses menempa kerispun harus berpuasa. Jadi tidak bisa sembarangan, harus ikuti aturannya. Proses pembuatan keris tidak sesederhana peralatanya. Karena pembuatanya menggunakan teknik tempa yang rumit. Tingkat kerumitanya terletak pada seni tempa pamor motif pada logamnya. Satu keris biasanya dikerjakan 5 orang dengan keahlian masing-masing. Ke 5 orang ini ada yang membuat rangka, membuat keris, membuat ukirannya, pendoknya, dan mendaknya.
Pembuatan warangka keris umumnya dibuat dari bahan lempengan kuningan. Hampir sama seperti proses menatah keris, pembuatan warangka juga menggunakan alat-alat yang sederhana, berupa palu, paku tatah dan alas yang juga terbuat dari bahan aspal. Prosesnya juga rumit, dengan kuningan sebagai bahan baku terlebih dahulu dibuat bentukan sarung keris kemudian dipatri. Selanjutnya, untuk membantu proses penatahan, sarung keris yang masih polos dilekatkan pada permukaan alas yang terbuat dari aspal. Proses penatahan pun dimulai sesuai motif yang ingin dibuat. Warangka didominasi dengan gambar bunga-bunga, figur binatang seperti singa dan naga hingga figur manusi. Untuk pendok, umumnya terbuat dari kayu asem dengan dua gaya. Gaya Solo yang lebih besar dan lengkung. Sedangkan gaya Yogyakarta lebih kecil. Untuk menghasilkannya, kayu-kayu itu diukir sesuai desain yang diinginkan.
Seiring lajunya jaman peminat kerispun masih sangat banyak. Peminat keris ini bervariasi dan berasal dari seluruh Indonesia. Mereka ada yang sekadar pembeli, ada juga kolektor. Biasanya kalau kolektor harga keris yang dicari cukup tinggi, bisa mencapai Rp40 juta. Mereka suka dengan keris-keris yang kuno, peninggalan zaman Kerajaan Majapahit, Mataram. Dalam setiap kunjungan, mereka juga mendapat kesempatan untuk belajar membuat keris. Keris produksi di Banyusumurup biasanya mengirim kerajinan mereka 3-5 kodi per bulan ke hampir seluruh daerah di Pulau Jawa. Kerajinan keris itu juga dikirimkan ke beberapa daerah di Kalimantan dan Sumatera. Bukan hanya dalam negri, kerajinan keeis ini sudah dikenal sampai luar negeri. Karena banyak wisatawan asing yang berkunjung untuk sekedar wisata ataupun studi mengenai kerajinan. Maka keris dari Banyusumurup ini diekspor ke luar negeri seperti Singapura, Malaysia, dan beberapa negara di Eropa. Pandemi COVID-19 cukup memukul para perajin keris. Pasalnya, Sebagian pembeli keris berasal dari kunjungan pariwisata yang datang dari luar kota seperti Jakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan sebagainya.Dalam setiap kunjungan, mereka juga mendapat kesempatan untuk belajar membuat keris. Tapi pandemi membuat kunjungan wisatawan sangat menurun,”
Tertarik untuk mengunjungi desa ini? Anda harus mencari waktu untuk mengunjunginya. Waktu untuk mengunjungi Banyusumurup antara pukul 08.00 – 13.00 WIB. Lebih baik membuat janji lebih dulu. Anda bisa menghubungi putra dari alm. Mpu Djiwo Diharjo di 08122749019

Untuk jalan atau rute menuju desa ini, mudah. Desa Banyusumurup berjarak sekitar 40 menit dari pusat Kota Yogyakarta. Terletak di sebelah tenggara makam Raja-raja Mataram di Imogiri. Secara geografis, Banyusumurup terletak di sebelah tenggara makam Raja-Raja Mataram di Imogiri, Bantul. Hal ini menjadikan kawasan ini lekat dengan aspek budaya dan sejarah yang sangat cocok sebagai tujuan wisata. Dari terminal Giwangan terus ke selatan sampai mentok di pertigaan kecamatan Imogiri. Dari pertigaan kecamatan Imogiri belok ke kiri (timur) terus mengikuti arah menuju makam raja-raja di Imogiri. Sebelum pertigaan makam raja-raja ada persimpangan berbentuk “Y” belok ke kanan. Di dekat persimpangan sudah terdapat penunjuk arah. Anda tinggal mengikuti jalan itu. Selamat berwisata budaya di Banyusumurup. Wisata budaya sekaligus wisata edukasi.
